Langsung ke konten utama

konservasi arsitektur


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Sejarah
Masjid Jami’ Kalipasir
Pengelolaan masjid dari sejak berdiri hingga tahun 1918 dikelola secara turun temurun. Masjid dibangun pada tahun 1700 oleh Tumenggung Pamitrwidjaja dari Kahuripan. Sekitar tahun 1712 masjid kemudian dikelola oleh putranya yang bernama Raden Bagus Uning Wiradilaga. Pada tahun 1740 pengelolaan masjid diserahkan kepada Tumenggung Aria Ramdon (putera dari Raden Bagus Uning Wiradilaga). Aria Ramdon meninggal pada tahun 1780 dan dimakamkan di sebelah barat masjid. Sepeninggalnya beliau, pengelolaan masjid diserahkan kepada putranya, yaitu Aria Tumenggung Sutadilaga.
Pengangkatannya sebagai Tumenggung melalui Bisluit VOC 16 Februari 1802. Aria Tumenggung  Sutadilaga meninggal dan dimakamkan di halaman sebelah barat masjid tahun 1823 (satu-satunya nisan yang terdapat angka tahun). Pengelolaan masjid diserahkan kepada putranya, yaitu Raden Aria Idar Dilaga tahun 1830. Tahun 1865, pengurusan masjid dan makam dikelola oleh putri dari Raden Aria Idar Dilaga, yaitu Nyi Raden Djamrut bersama suaminya Raden Abdullah hingga tahun 1904. Selanjutnya dikelola oleh putranya bernama Raden Jasin Judanegara.
Pada pengelolaannya terdapat perbaikan masjid dan pendirian menara di sisi tenggara masjid. Perombakan bagian dalam masjid dilakukan pada tahun 1918 oleh beliau bersama H. Muhibi, H. Abdul Kadir Banjar. Setelah sekian lama, masjid kembali diperbaiki dan perombakan menara pada tanggal 21 April 1959 – Agustus 1961.

Bangunan Masjid Jami’ Kalipasir
https://situsbudaya.id/wp-content/uploads/2017/11/Masjid-jami-kalipasir.jpg
Gambar : masjid jami makam kalipasir

Masjid Kalipasir berdenah persegi dengan menara di sisi timur laut bangunan masjid. Bagian dalam bangunan terdapat mimbar, mihrab, dan beberapa lemari. Jendela dan pintu bangunan ini sudah menggunakan peralatan sekarang. Hal yang menarik adanya empat soko guru terbuat dari kayu, kondisi soko guru sudah mulai lapuk. Maka ditopang oleh besi dan bagian dasar terbuat dari bata dan semen. Selain itu, terdapat 11 kolom seperti ladam kuda dengan 5 kolom di sisi selatan dan 6 kolom di sisi timur.
Kolom yang di sisi timur, bagian atas dari lengkungan terdapat list berbentuk setengah lingkaran dengan ukuran diameter ± 2-3 cm dan berwarna-warni. Bagian menara menyerupai dengan bentuk pagoda dengan ukuran ± 10 m.




1.2    Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut :
1.    Cagar Budaya perlu dilestarikan
2.    Banyaknya masyarakat Kota Tangerang yang tidak mengetahui keberadaan masjid jami makam kalipasir.
3.    Kurangnya upaya dalam mensosialisasikan masjid jami makam kalipasir

.1.3 Rumusan Masalah
Adapaun rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.      Bagaimana cara memperkenalkan majisd jami makam kaipasir di Kota Tangerang?
2.      Bagaimana agar masyarakat di Kota Tangerang mengetahui keberadaan masjid jami makam kalipasir

1.4  .Batasan masalah
Batasan masalah yang di ambil dari tugas konservasi arsitektur pada masjid jami makam kalipasir tangerang, banten adalah area masjid dan makam untuk diperbaiki dan akses sirkulasi area masjid dan makam kalipasir.

Komentar